Box Culvert Penyebab Banjir

SURABAYA “Banjir parah yang melanda Kota Surabaya sehari menjelang hari ulang tahun ke- 723 disebabkan pembangunan kota yang melawan proses hidrologi”.

Akibatnya, air tidak bisa meresap ke tanah sehingga meluap ke permukaan. Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Sipil Universitas Narotama Surabaya Fredy Kurniawan mengungkapkan, pembangunan dan tata kota yang dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebenarnya sudah bagus.

Namun, karena dasar keilmuan Wali Kota yang akrab dipanggil Risma adalah arsitektur, dia belum memahami betul proses hidrologi, yaitu siklus air. Fredy menyebutkan, di antara pembangunan kota yang dianggap melawan hidrologi, khususnya pada siklus air, adalah pembangunan box culvert.

Di mana, kali atau saluran air dilakukan normalisasi modern menggunakan beton, baik dari sisi pinggir kali maupun sisi bawahnya. Penggunaan saluran air dengan beton ini mengakibatkan siklus air tidak berjalan. Siklus air terjadi ketika hujan turun dan air berada di permukaan tanah, maka tanah akan menyerap air semampunya.

Kemudian air disimpan di dalam tanah menjadi deposit air dalam tanah atau yang disebut dengan air tanah. Ketika saluran air dibangun dengan box culvert, fungsi saluran air atau kali itu hanya untuk mengalirkan air tanpa fungsi penyerapan air ke tanah.

Akibatnya, ketika hujan turun cukup deras, box culvert tidak mampu menampung jumlah air sehingga meluap dan terjadilah apa yang disebut banjir. Sehebat apa pun saluran air (box culvert) dibuat, fungsinya hanya mengalirkan air, tidak melakukan penyerapan air, tandasnya kemarin.

Fredy dengan tegas mengatakan, pembangunan saluran air menggunakan box culvert keliru total. Dia melihat apa yang dilakukan Pemkot Surabaya meniru pembangunan modernisasi yang dilakukan Eropa. Bagi negara itu yang namanya modern adalah mampu melawan alam.

Tapi pada kenyataannya berdasarkan berbagai penelitian membuktikan bahwa modernisasi itu tetap kalah dengan alam. Akhirnya mereka kembali lagi ada konsep natural, tandasnya. Menurut Fredy, yang harus dipahami bahwa siklus hujan dulu dan sekarang sudah berbeda.

Jika dulu siklus hujan terjadi rutin dengan intensitas ringan dan sedang, sekarang jarang terjadi dan sekali terjadi intensitasnya langsung tinggi. Perubahan siklus hujan ini merupakan pengaruh pemanasan global.

Selain normalisasi saluran air menggunakan box culvert yang dianggap salah, penyebab terjadinya banjir lainnya adalah perubahan lahan hijau menjadi areal bangunan sehingga mengurangi daerah resapan air.

Untuk mengatasi masalah banjir ini, solusi yang bisa dilakukan di antaranya memberikan biopori pada box culvert sehingga bisa menyerap air. Selain itu, harus dilakukan penambahan lahan hijau sebagai daerah penyerapan air.

Sedangkan untuk pembangunan pemukiman sudah tidak lagi dengan sistem pengembangan horizontal, tetapi lebih pada pemukiman vertikal sehingga akan didapat lahan fasilitas umum yang cukup banyak di Surabaya.

Solusi lain adalah pembangunan waduk. Fungsi waduk ini di antaranya untuk penampungan air hujan, khususnya ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, rekreasi, dan perikanan, tandasnya. Terpisah, dosen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Umboro Lasminto mengatakan, penyebab banjir di Surabaya cukup banyak.

Banjir kemarin adalah akumulasi dari banyak faktor, jadi tidak hanya satu faktor, termasuk hujan hebat yang merupakan siklus 10 tahunan, katanya. Dia menyebutkan, salah satu faktornya adalah Pemkot yang salah perhitungan, di mana diperkirakan bulan ini sudah masuk musim hujan sehingga dilakukan pembongkaran pada beberapa satu air termasuk pompa air.

Namun, bukti masih terjadi hujan cukup deras sehingga saluran airnya belum siap. Selain itu, faktor sampah yang masih banyak di kawasan aliran air. Kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya ini masih sangat jarang.

Banyak sampah di saluran air menghambat aliran sungai. Tapi banyak sebab, termasuk pembangunan yang mengurangi resapan air, katanya. Seperti diketahui, sejumlah kawasan di Kota Surabaya terendam banjir akibat hujan deras yang mengguyur Kota Pahlawan selama sekitar tiga jam pada Senin (30/5) malam hingga Selasa dini hari.

Sejumlah kawasan yang terendam banjir seperti Jalan Semarang, Jalan Kartini, MERR – Galaxy Mall, Kertajaya, Dukuh Kupang, Klampis, Samping Carrefour Ngagel, Jalan Panglima Sudirman, Patung Joko Dolog belakang Taman Apsari, Ngagel Tirto, Rungkut Kidul Depan UPN, Mulyorejo, Dharmawangsa Jalan Demak dekat Adijasa, Pucang Adi, Brebek – Brigjend Katamso, Jalan Ciliwung, dan Jalan Mayjend Sungkono.

Banjir tidak hanya menggenangi ruas jalan, tapi juga rumah penduduk, pusat perbelanjaan dan rumah sakit. Seperti yang terjadi di kawasan Mulyorejo Surabaya. Banjir menggenangi rumah-rumah warga di kawasan tersebut.

Evaluasi SKPD

Banjir yang mengepung Kota Surabaya memantik reaksi keras kalangan DPRD Surabaya. Mereka menduga ada hal yang tidak beres dalam penataan kota maupun juga penanganan luapan air hujan tersebut.

Karena itu, mereka mendesak Wali Kota Surabaya untuk mengevaluasi kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait banjir tersebut. Ini bukan yang pertama terjadi.

Maka harus ada evaluasi terhadap dinas terkait. Bila memang mereka tidak mampu, maka lebih baik diganti, kata anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius kemarin. Menurutnya, banjir yang terjadi kemarin malam bukan sebuah kebetulan, tetapi karena ada persoalan serius pada manajemen penanganan banjir.

Hal itu bisa karena SDM SKPD yang menangani atau karena utilitas yang tidak memadai. Nah yang seperti ini harus dievaluasi. Kalau memang ada kebijakan yang salah, maka perlu segera diperbaiki. Wali kota juga harus transparan dan obyektif atas persoalan ini.

Jangan malah menutup-nutupi, tandas pria yang akrab disapa Awey ini. Awey menjelaskan, ada banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya banjir seperti. Di antaranya sistem drainase master plane (SDMP) yang diterapkan di Surabaya sudah ketinggalan jaman alias tidak update.

SDMP yang digunakan pemkot sekarang itu produk 10 tahun yang lalu. Padahal kondisi Surabaya sekarang dengan 10 tahun lalu itu sudah jauh berbeda, katanya. Pada 10 tahun lalu, Surabaya masih memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang cukup luas, tetapi kini jumlahnya terus berkurang.

Hal itu diperparah dengan semakin menjamurnya bangunan vertikal yang dari waktu ke waktu terus bertambah. SDMP kita harus diubah dan disesuaikan dengan kondisi kekinian,”saran Awey.

Faktor lain yang menjadi penyebab banjir di Surabaya adalah kesalahan pemkot dalam menunjuk rekanan untuk pengerjaan proyek saluran.

Tidak sedikit rekanan yang ditunjuk tidak kompeten mengerjakan proyek drainase. Belum lagi, anggaran yang sedianya digunakan untuk mengerjakan proyek kerap mendapat potongan.

Hasilnya, proyek yang dikerjakan menjadi asal-asalan lantaran minimnya anggaran yang tersedia.

Ini, diperparah dengan adanya pengawas yang kerjanya hanya duduk di belakang meja, sambungnya. Dia juga meminta masyarakat introspeksi dengan tidak membuang sampah di saluran. Sebab salah satu penyebab banjir karena ulah dari masyarakat sendiri.

PR utama Bu Risma bukan lagi soal membangun taman dan penghijauan, tetapi mengatasi banjir di Surabaya, ujarnya.

lutfi yuhandi / ihya ulumuddin

Sumber: http://www.koran-sindo.com/news.php?r=5&n=67&date=2016-06-01